Allow semuanya, Z, gritingers, all of ya all over the worlds....pa khabar ?
Hujan hampir tidak pernah berhenti sejak pagi hari. Mendung menggantung putih dan merata. Namun hal itu tidak cukup bagi saya untuk tidak memenuhi janji saya terhadap mbak Dewi Miauw untuk bertemu lagi, apalagi kali ini kami berdua juga berjanji hendak bertemu Yunisa di Starbuck Ambarukmo Plaza. Jadi, hujan yang lumayan deras itu bukan halangan bagi saya untuk terus memacu kendaraan saya. Dengan di bungkus mantol lama saya meluncur dari kampus menuju ke arah utara.Memasuki rumah mertua mbak Dewi Miauw dalam kondisi setengah basah sebenarnya bukan hal menyenangkan, apalagi ini untuk pertama kalinya saya bertamu, setelah sempat tersesat kian kemari. Namun sambutan mbak Miauw yang ramah dan ceria serta senyum lembut khas piyayi sepuh ( orang tua ) sang ibu mertua membuat saya merasa sedikit nyaman, apalagi setelah saya mendapat pinjaman celana gombrang mbak Dewi Miauw sebagai pengganti jeans saya yang basah oleh hujan. Ditambah lagi dengan makan siang yang lezat. Menu telor hitam dan sup dengan jamur. Hummmm......Sore harinya, sepulang pertemuan dengan Yunisa ( dan mbak Dewi tentu saja ), saya kembali memasuki rumah di bilangan kompleks Colombo itu lagi, tentu saja ya dengan mbak Dewi Miauw. Jika siang tadi saya belum sempat menikmati isi rumahnya, maka sore itu, menjelang malam, rumah dengan model kuno tersebut memberikan saya banyak kejutan yang menyenangkan. Kamar tamu yang penuh dengan berbagai macam pernak-pernik, foto-foto dan berbagai hasil kreatifitas bernilai seni hasil karya sang ibu. Suasana ruang tamu membangun memori saya akan rumah eyang, jaman dulu semasa saya kecil. Hangat dan nyaman. Mata saya di manjakan oleh hal-hal indah yang membuat saya kangen pada eyang dan mamah almarhumah. Pada meja terhampar taplak rajutan dari benang katun putih, di dindingnya tergantung dengan manis hasil kruisteek dan sulaman tangan yang indah. Sulaman bunga-bunga itulah yang membuat saya membongkar kembali cerita lama, menahan saya untuk sejenak berlama-lama ngobrol dengan mbak Dewi Miauw. Menyulam !Menyulam adalah salah satu kegiatan favorite saya di samping banyak hal lainnya, untuk menghidupkan waktu, jika kebosanan muncul. Saya bisa menikmati setiap untai benang yang terjahit rapi membentuk pola yang ada di otak saya. Menikmati setiap warna yang terjalin di atas selembar kain. Saya belajar menyulam sejak masih kecil, karya sulam saya yang pertama bertahun 1990. Saya belajar dari mamah saya almarhumah. Beliau adalah seorang penyulam yang sangat baik dan tekun. Saya belajar menyulam hanya dengan mengamati eyang dan mamah almarhumah, ketika beliau-beliau menyulam di teras atau di ruang tamu. Mamah alm. menunjukkan bagaimana caranya menyematkan benang-benang tersebut menjadi pola-pola indah dan saya menyukainya. Berkunjung ke rumah mertua mbak Dewi Miauw membuat saya kembali ingin melakukan sesuatu yang sudah lama sekali tidak saya lakukan. Sampai di rumah kahyangan, saya mulai membongkar kotak peralatan saya. Saya pilih benang-benang sulam aneka warna yang masih utuh dan bagus. Kemudian seluruh peralatan menyulam saya ambil dari kotak penyimpanan. Masih lengkap semuanya. Begitu juga beberapa lembar kain bersih untuk menyulam. Saya pilih satu lembar kain satin warna kuning emas ukuran 36 x 36 cm. Saya buat sket global langsung pada kain tersebut. Saya memang tidak pernah membuat pola pada kertas. Biasanya saya langsung membuat pola/gambar disain langsung pada kain yang hendak saya sulam. Selama proses menyulam, disain tersebut bisa berubah sesuai dengan ide yang kadang mendadak muncul. Jadi boleh di bilang hasil karya sulam saya adalah satu-satunya di dunia ( narsis mode : on ), sebab saya tidak akan pernah bisa dan mau membuat disain yang sama persis untuk sulaman berikutnya.
Sulaman yang baru saya kerjakan sepulang dari berkunjung ke rumah mertua mbak Dewi
Karya sulaman saya berupa lukisan dekoratif yang saya terapkan pada berbagai macam jenis kain, mulai dari sutra, satin, katun, kanvas bahkan saya juga pernah membuat sulaman di atas selembar kain popok bayi yang masih baru. Selain itu saya juga , membuat sulaman untuk menghias baju.
Beberapa contoh karya sulam saya di atas baju/ blouse berbahan sutra dan polyester.
Kegiatan menyulam melatih kesabaran dan ketelatenan. Bagi saya juga melatih pengembangan ide dan belajar melembutkan perasaan/ hati yang seringkali menjadi sangat keras. Saya tidak begitu suka melukis dengan cat minyak seperti papah saya, jadi kadang kala saya menuangkan karya lukis saya dalam bentuk sulaman. Tentu saja memerlukan waktu khusus dan lama. Namun apabila sedang in the good mood, saya bisa menyelesaikan sebuah sulaman di atas kain berukuran 20 x 20 cm dengan disain biasa, dalam waktu 2 atau 3 hari. Tetapi bila tidak sedang dalam mood yang bagus, wah, sulaman dengan ide yang mirip dan ukuran kain yang sama bisa saya kerjakan dalam waktu sebualan lebih !
Bagi saya menyulam memang hanya sekedar hobi dan kegiatan pengisi waktu, kadang-kadang juga sebagai hiburan mana kala merasa stress dan jenuh dengan rutinitas sehari-hari. Meskipun demikian saya juga pernah memamerkan karya-karya saya ini dalam pameran bersama di gedung Gallery ISI Yogyakarta, beberapa tahun yang lalu. Juga pernah saya pamerkan di gedung Bentara Budaya Yogyakarta, bersama beberapa perupa lainnya. Beberapa diantaranya bahkan di beli oleh orang asing dengan harga yang lumayan tinggi.
Kadang-kadang saya juga memberikan karya sulam saya sebagai hadiah untuk seseorang yang “dekat” dengan saya.
“The Savage Garden” ( silk )
Karya sulam saya terbesar ukuran 50 x 105 cm, Koleksi kel. Totong Sampurno, Jakarta.
Untuk membuat sulaman diperlukan kain, benang jahit, spin ( saya biasa menyebutnya “ kolong “ ), dan beberapa alat pendukung seperti pensil atau spidol untuk menngambar disain, gunting untuk memotong benang. Benang yang biasa saya pakai merknya adalah Star, Payung, DMC, Rose dan Pearl Yarn. Kolong yang di pakai sesuai dengan ukuran kain yang hendak di sulam ( saya memilki 4 buah kolong dengan ukuran diameter yang berbeda-beda ).
Contoh macam-macam jenis warna benang sulam, kolong dan perlengkapan sulam saya.
Fairies ( Satin Cina )
Menyulam adalah istilah untuk menjahitkan benang secara dekoratif. Untuk itu diperlukan tusuk-tusuk hias. Teknik menghias ini di kelompokkan dalam bentuk :
Tusuk hias dalam menyulam bebas ada bermacam-macam jenisnya, diantaranya adalah tusuk jelujur, tusuk feston, tusuk tangkai, tusuk pipih, tusuk rantai, tusuk tulang ikan, tusuk silang, tusuk mawar dan lain sebagainya. Tusuk hias yang paling sering saya pakai dalam karya sulam saya adalah tusuk rantai. Tusuk ini mudah digunakan dalam membentuk pola-pola melengkung, sehingga menghasilkan bentuk lengkungan yang rapi dan halus. Untuk membentuk isian ( mengisi pola-pola tertentu ) tusuk rantai ini juga paling efektif untuk digunakan, karena bisa dengan mudah mengisi sudut-sudut dan bagian-bagian kecil, di samping itu juga cepat mengisi penuh bagian yang diinginkan, misalnya untuk mengisi bentuk daun. Golden Rose ( canvas )
Visiting Friends ( textille for crosstick )
Detail 1 Visiting Friends : The Bees
Detail 2 Visiting Friends : The Butterflies
Detail 3 Visiting Friends : The Lady Bugs
Yah, akhirnya saya menemukan kembali kesibukan yang menyenangkan. Saya memang sudah cukup lama tidak mengerjakan sulaman, bukan karena lupa, tapi karena kesibukan yang akhir-akhir ini menyita banyak konsentrasi dan waktu di depan komputer.
satu seri : Wind, Earth, Water ( Silk ).
Saya sudah memulainya, dan harus menyelesaikannya dengan baik. Setidaknya kegiatan ini bisa membuat saya betah berada di kamar saya yang tenang. By_kolom Seni
Posting Komentar